Artikel ini sungguh tidak ingin memberikan penilaian tentang besar dan kecilnya arti sebuah cinta. Biarlah masing-masing individu memaknai sendiri. Ini hanyalah penggalan sebuah pengalaman yang kualami.
Ini kali pertama bagiku meninggalkan istri dan my little baby-ku yang lucu untuk kurun waktu yang bisa dikatakan cukup lama. Ternyata meskipun dibayar dengan ruangan yang jauh lebih nyaman daripada gubukku, makanannya pun jauh lebih enak, bergizi, higienis daripada apa yang disajikan istriku. namun semuanya tak bisa menggantikan kenikmatan menikmati hidup bersama istri dan anak (bagi yang masih single mungkin belum bisa merasakan). Kemudian aku berfikir, kalau dibayar dengan fasilitas sedemikian rupa saja aku masih merasakan adanya sesuatu yang hilang, bagaimana kalau dibayar dengan kesusahan, ketiadaan, kelaparan, kesakitan, tentu akan menjadi pengalaman yang sangat tidak menyenangkan. lalu aku bayangkan bagaimana dengan para sahabat rasul yang sebagian besar waktunya dihabiskan tidak bersama keluarga, tidak bisa menikmati indahnya memandang ranum kebun kurma madinah, sambil bercengkerama dengan istri dan anaknya. Mereka harus menempuh perjalanan yang luar biasa berat, dengan resiko yang tidak tanggung-tanggung yaitu mati, namun mereka mampu menjalaninya, demi mengemban satu misi yaitu perbaikan spiritual dan moral manusia, menyelamatkan manusia menuju pencerahan hidup dunia akhirat.
setelah menyelami hal di atas aku pun tersadar apa yang aku lakukan untuk sesama ternyata belum seberapa jika dibanding mereka r.hum. kecintaan mereka pada manusia seluruh alam jauh melebihi kecintaan mereka pada keluarganya.
Aku teringat mungkin inilah maksud firman Allah bahwa janganlah keluarga, rumah, bisnis kita menghalangi diri kita untuk berjuang di jalan Allah. kalau untuk kemaslahatan manusia, kalau untuk kehidupan anak cucu kita yang lebih baik, kalau untuk kemuliaan dan kejayaan islam, maka relakanlah diri kita menanggung sedikit kesusahan jauh dari anak istri.
lpmp jateng januari 2008
bener tuh jek lu kayak ustat aja