Tanpa melebih-lebihkan arti cinta

Januari 19, 2008
Artikel ini sungguh tidak ingin memberikan penilaian tentang besar dan kecilnya arti sebuah cinta. Biarlah masing-masing individu memaknai sendiri. Ini hanyalah penggalan sebuah pengalaman yang kualami.
Ini kali pertama bagiku meninggalkan istri dan my little baby-ku yang lucu untuk kurun waktu yang bisa dikatakan cukup lama. Ternyata meskipun dibayar dengan ruangan yang jauh lebih nyaman daripada gubukku, makanannya pun jauh lebih enak, bergizi, higienis daripada apa yang disajikan istriku. namun semuanya tak bisa menggantikan kenikmatan menikmati hidup bersama istri dan anak (bagi yang masih single mungkin belum bisa merasakan). Kemudian aku berfikir, kalau dibayar dengan fasilitas sedemikian rupa saja aku masih merasakan adanya sesuatu yang hilang, bagaimana kalau dibayar dengan kesusahan, ketiadaan, kelaparan, kesakitan, tentu akan menjadi pengalaman yang sangat tidak menyenangkan. lalu aku bayangkan bagaimana dengan para sahabat rasul yang sebagian besar waktunya dihabiskan tidak bersama keluarga, tidak bisa menikmati indahnya memandang ranum kebun kurma madinah, sambil bercengkerama dengan istri dan anaknya. Mereka harus menempuh perjalanan yang luar biasa berat, dengan resiko yang tidak tanggung-tanggung yaitu mati, namun mereka mampu menjalaninya, demi mengemban satu misi yaitu perbaikan spiritual dan moral manusia, menyelamatkan manusia menuju pencerahan hidup dunia akhirat.
setelah menyelami hal di atas aku pun tersadar apa yang aku lakukan untuk sesama ternyata belum seberapa jika dibanding mereka r.hum. kecintaan mereka pada manusia seluruh alam jauh melebihi kecintaan mereka pada keluarganya.
Aku teringat mungkin inilah maksud firman Allah bahwa janganlah keluarga, rumah, bisnis kita menghalangi diri kita untuk berjuang di jalan Allah. kalau untuk kemaslahatan manusia, kalau untuk kehidupan anak cucu kita yang lebih baik, kalau untuk kemuliaan dan kejayaan islam, maka relakanlah diri kita menanggung sedikit kesusahan jauh dari anak istri.
lpmp jateng januari 2008

sebuah pengakuan

Januari 19, 2008

draj1.jpgkebahagiaan hidup adalah sesuatu yang menjadi dambaan setiap manusia. Namun adakah parameter yang benar-benar bisa digunakan untuk menentukan bahagia atau tidaknya hidup seseorang. Apakah banyaknya harta, lengkapnya fasilitas berbanding lurus dengan kebahagiaan? apakah seseorang yang hidupnya pas-pasan, makan seadanya, dikatakan tidak bahagia? lalu dimana keadilan tuhan? kalau hanya melimpahkan kebahagiaan kepada hambanya yang kaya. Yang benar adalah bagaimanapun keadaan kita, kita masih bisa merasakan kebahagiaan. Karena hakikat kebahagiaan ada di dalam hati, bukan apa yang ada di tangan, di tabungan, ataupun di garasi, kebahagiaan hanya bisa dicapai dengan mensyukuri apa yang kita terima, menyandarkan hasil kepada sang pencipta. Manusia hanya diperintah untuk berusaha sebaik-baiknya. Sementara yang ia terima adalah karunia. Berbahagialah orang yang merasa hidupnya telah bahagia.

Pandanglah apa yang kita punya, istri yang setia, anak yang tertawa gembira. Tawa bukan hanya milik mereka yang berharta. Setiap orang berhak tertawa. Oleh karena itu bagi saudaraku yang hidup tak bergelimang harta, jangan sedih, tertawalah, bahagialah, nikmatilah,  terimalah kehendak tuhan, berprasangkalah yang baik kepada-Nya, ingat kehidupan bukan hanya di dunia fana ini.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.